Kamis, Juni 25, 2026

CENDERAWASIH POST

spot_img
Beranda blog Halaman 2

Influencer Papua: Dengan Semangat Kolaborasi Sitkamtibmas Dapat Diwujudkan

0

Jayapura, Papua – Para influencer dan pegiat media sosial di Papua secara tegas menyatakan dukungan penuh kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dalam menjaga dan mewujudkan keamanan serta ketertiban masyarakat (kamtibmas) yang aman, damai, dan kondusif di seluruh wilayah Papua.

Di tengah derasnya arus informasi dan dinamika ruang digital yang kian kompleks, peran media sosial tidak lagi sekadar sarana komunikasi, melainkan menjadi ruang strategis yang mampu memengaruhi opini publik dan stabilitas sosial. Para influencer Papua menilai bahwa stabilitas keamanan merupakan fondasi utama bagi keberlanjutan pembangunan, kelancaran aktivitas sosial, serta pertumbuhan ekonomi masyarakat.

“Keamanan adalah prasyarat utama kemajuan. Tanpa situasi yang kondusif, pembangunan tidak akan berjalan optimal dan kesejahteraan masyarakat akan terhambat,” tegas perwakilan influencer Papua dalam pernyataan sikapnya.

Sebagai bagian dari masyarakat digital, para pegiat media sosial menyatakan komitmennya untuk menggunakan platform secara bertanggung jawab dengan menyebarkan konten yang positif, edukatif, dan menyejukkan. Mereka juga bertekad untuk menangkal hoaks, ujaran kebencian, serta provokasi yang berpotensi memecah belah persatuan masyarakat Papua.

Lebih lanjut, masyarakat diajak untuk semakin bijak dalam menerima dan membagikan informasi. Verifikasi fakta, klarifikasi sumber, serta mengedepankan etika bermedia sosial menjadi langkah penting dalam menjaga ruang digital tetap sehat dan produktif.

Sinergi antara masyarakat dan aparat keamanan dinilai sebagai kunci utama dalam menciptakan Papua yang aman dan damai. Dukungan moral dan partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga ketertiban sosial akan memperkuat upaya Polri dalam menjalankan tugasnya secara profesional dan humanis.

Dengan semangat kolaborasi dan tanggung jawab bersama, para influencer Papua optimistis bahwa keamanan dan kedamaian dapat terus terjaga, sehingga Papua mampu melangkah maju menuju masa depan yang lebih sejahtera dan bermartabat.

Ketua Dewan Pengurus Paroki Hati Kudus Yesus Koya: Tajuk SOSRA Simbol Gerakan Moral, Sosial dan Penguat Stabilitas Ekonomi Papua

0

Jayapura – Ketua Dewan Pengurus Paroki Hati Kudus Yesus Koya, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, sekaligus Koordinator Gerakan SOSRA, Bapak Laurensius Tukan, menegaskan bahwa launching beras lokal Papua bertajuk SOSRA (Solidaritas Sosial Rakyat) bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan langkah strategis dalam memperkuat stabilitas ekonomi dan ketahanan pangan di Tanah Papua.

Dalam pernyataannya, Laurensius Tukan menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap inisiatif tersebut sebagai gerakan moral dan sosial yang lahir dari semangat kebersamaan masyarakat Papua. Sebagai Koordinator Gerakan SOSRA, ia menegaskan bahwa gerakan ini dibangun atas dasar panggilan hati untuk memperkuat ekonomi rakyat dari bawah.

“Tajuk SOSRA bukan hanya nama sebuah produk. Ini adalah simbol gerakan moral dan sosial. Gereja memandang bahwa solidaritas adalah panggilan iman. Ketika umat bersatu untuk mendukung pangan lokal, itu adalah wujud nyata kasih dan tanggung jawab sosial,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa dalam dinamika ekonomi nasional dan tantangan global saat ini, penguatan sektor pangan lokal menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah. Beras SOSRA yang dihasilkan oleh petani Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura, dinilai sebagai langkah konkret dalam membangun kemandirian ekonomi berbasis rakyat.

Menurutnya, panen perdana sebanyak 5 ton merupakan awal yang patut disyukuri sekaligus menjadi bukti bahwa masyarakat Papua mampu berdiri di atas kekuatan sendiri dalam memenuhi kebutuhan pangan dan menjaga perputaran ekonomi tetap berada di dalam daerah.

“Ketahanan pangan adalah bagian dari stabilitas bangsa. Ketika petani kita diberdayakan, ketika hasil bumi kita dihargai dan dikonsumsi sendiri, maka roda ekonomi berputar di tanah ini. Ini bukan hanya soal beras, tetapi soal kedaulatan ekonomi dan masa depan Papua,” ujarnya dengan tegas.

Sebagai pimpinan Dewan Pengurus Paroki dan Koordinator Gerakan SOSRA, Laurensius Tukan mengaitkan gerakan ini dengan ajaran sosial Gereja Katolik tentang solidaritas, subsidiaritas, dan keberpihakan kepada kaum kecil. Ia menegaskan bahwa gereja tidak hanya hadir dalam ruang ibadah, tetapi juga dalam perjuangan kesejahteraan umat.

“Gereja mengajarkan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Mendukung produk lokal seperti SOSRA adalah bentuk iman yang hidup — iman yang bekerja, iman yang membela petani, dan iman yang membangun kesejahteraan bersama,” tambahnya.

Dukungan masyarakat Papua terhadap gerakan SOSRA dinilai sebagai bukti bahwa semangat persatuan lintas suku, agama, dan golongan tetap kuat dalam membangun stabilitas dan kesejahteraan bersama. Ia berharap gerakan ini terus berkembang dan menjadi model penguatan ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan di Provinsi Papua.

“Kami berharap SOSRA menjadi pion penggerak ketahanan pangan, memperkuat stabilitas ekonomi daerah, serta menjadi saluran berkat bagi masyarakat Kota Jayapura dan Provinsi Papua secara luas. Ketika rakyat kuat secara ekonomi, maka Papua akan berdiri kokoh, bermartabat, dan damai,” tutup Laurensius Tukan.

Purnawirawan Polri Apresiasi Gerakan Pertanian Skouw: “Ini Gerakan Rakyat untuk Rakyat”

0

Jayapura Papua – Semangat yang tumbuh dari lahan-lahan pertanian di Skouw tak hanya menggerakkan masyarakat setempat, tetapi juga menyentuh hati para purnawirawan Polri. Bagi mereka, kebangkitan sektor pertanian di tapal batas ini bukan sekadar program, melainkan panggilan moral untuk ikut terlibat dan mengabdi kembali kepada masyarakat.

Kompol (Purn.) Lauren Tukan mengatakan kegiatan ini sebagai langkah luar biasa yang patut diapresiasi. Menurutnya, inisiatif tersebut lahir dari kesadaran masyarakat sendiri yang ingin meningkatkan taraf hidup melalui pertanian jagung.

“Kegiatan ini luar biasa. Ini bukan sekadar program, tetapi kesadaran masyarakat sendiri yang ingin bangkit dan meningkatkan perekonomian mereka. Itu yang harus kita dukung bersama,” ujarnya.

Ia menegaskan, melihat semangat warga yang ingin mengolah lahan-lahan yang selama ini terlantar, para pensiunan Polri tidak tinggal diam. Mereka kemudian berinisiatif mengumpulkan rekan-rekan sesama purnawirawan untuk turut ambil bagian.

“Dengan dorongan dan kebersamaan yang kita bangun, kami kumpulkan beberapa rekan pensiunan untuk membantu masyarakat. Kami siapkan benih dan pupuk, kami juga akan mengawasi proses perkembangannya. Bahkan untuk masa panen nanti, kami sudah menyiapkan jalur penyalurannya,” jelas Lauren Tukan.

Langkah ini menjadi wujud nyata bahwa pengabdian tidak berhenti saat masa dinas usai. Melalui kolaborasi yang terbangun, para purnawirawan Polri sepakat membentuk komunitas pertanian sebagai wadah bersama untuk mendorong kesejahteraan masyarakat.

“Kita sepakat membangun komunitas pertanian. Tujuannya sederhana, membantu masyarakat meningkatkan kesejahteraan. Kalau ekonomi masyarakat kuat, kehidupan sosial juga akan kuat,” tambahnya.

Apresiasi serupa disampaikan AKBP (Purn.) Marthin Koagow saat menanggapi pencanangan Distrik Skouw sebagai Lumbung Pangan Kota Jayapura. Ia menyebut gerakan ini sebagai gerakan yang lahir dari rakyat dan kembali untuk rakyat.

“Apa yang sudah dilakukan ini pencapaian luar biasa. Kita harus punya mimpi besar menjadikan Papua sebagai lumbung pangan, baik jagung maupun padi. Semangat mengolah lahan ini menunjukkan bahwa kita bisa dan kita mampu,” tegasnya.

Lebih jauh, para purnawirawan menilai bahwa gerakan ini tidak bisa dilepaskan dari nilai luhur Solidaritas Sosial Rakyat atau SOSRA. Di tengah arus modernisasi dan gaya hidup yang semakin individualis, SOSRA hadir sebagai benteng ketahanan pangan dan sosial di tingkat akar rumput.

Bagi mereka, SOSRA bukan sekadar slogan. Ia adalah ruh yang menggerakkan kebersamaan para petani. Dalam praktiknya, nilai ini hidup dalam tradisi saling bantu tanpa pamrih.

“Hari ini kita membantu menanam di kebun saudara, esok hari kita yang dibantu saat panen tiba. Begitulah siklus kebersamaan ini berputar,” ungkapnya dengan penuh haru.

Dengan semangat SOSRA, aktivitas pertanian tidak lagi sekadar urusan ekonomi, tetapi telah bertransformasi menjadi gerakan sosial. Gerakan yang mempererat persaudaraan, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus menegaskan bahwa masyarakat Papua mampu berdiri tegak di atas tanahnya sendiri.

Dari Skouw, sebuah pesan kuat mengalir: ketika rakyat bersatu, dibimbing oleh pengalaman dan didukung oleh solidaritas, maka kesejahteraan bukan lagi sekadar cita-cita — melainkan kenyataan yang sedang ditanam bersama.

Warga Minang Papua Gelar Makan Basamo, Perkuat Silaturahmi Sambut Ramadan

0

Jayapura – Ratusan warga Minangkabau yang bermukim di Kota dan Kabupaten Jayapura menggelar makan basamo (makan bersama) dalam rangka tradisi balimau menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Kegiatan yang berlangsung di Pantai Cemara Palong, Kota Jayapura, ini diikuti kurang lebih 500 warga Minang dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh adat, tokoh agama, perantau senior hingga generasi muda.

Suasana kebersamaan tampak begitu kental. Hidangan khas Minang tersaji berjajar, dinikmati bersama dalam balutan rasa persaudaraan yang hangat. Tradisi makan basamo ini bukan sekadar santap bersama, melainkan bagian dari rangkaian balimau yang sarat makna spiritual dan budaya.

Dalam tradisi Minangkabau, balimau menjadi simbol penyucian diri sebelum memasuki bulan puasa. Maknanya adalah membersihkan diri lahir dan batin, saling bermaafan, serta menghapus kesalahan agar dapat menjalankan ibadah Ramadan dengan hati yang bersih dan penuh keikhlasan.

Filosofi tersebut sejalan dengan prinsip hidup masyarakat Minang yang dikenal dengan ungkapan, “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah,” yang berarti adat bersendikan syariat, dan syariat bersendikan Al-Qur’an. Artinya, setiap tradisi dan kebiasaan dalam budaya Minangkabau berakar pada nilai-nilai Islam.

Karena itu, makan basamo bukan hanya simbol kebersamaan sosial, tetapi juga wujud ukhuwah Islamiyah. Di tanah rantau seperti Papua, tradisi ini menjadi pengikat kuat yang menyatukan hati sesama urang Minang, mempererat silaturahmi, sekaligus menjaga identitas adat dan nilai keagamaan tetap hidup.

Di bawah semilir angin Pantai Cemara Palong, kebersamaan ratusan warga Minang tersebut menjadi gambaran bahwa semangat persaudaraan dan nilai religius tetap terjaga, meski jauh dari kampung halaman. Ramadan pun disambut dengan hati yang bersih, penuh syukur, dan tekad memperkuat iman serta persatuan.

Tokoh Papua: Soal Pertanian, Kesadaran Masyarakat Terus Meningkat

0

Papua, Jayapura – Tokoh masyarakat Papua, Emilianus Tikuk, menegaskan bahwa pertanian jagung bukan hanya bagian dari program ketahanan pangan, tetapi juga merupakan jalan nyata untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

Menurut Emilianus, Papua memiliki potensi lahan yang sangat luas dan subur, namun selama ini banyak yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Padahal, jika dikelola dengan baik, pertanian dapat menjadi sumber penghasilan yang berkelanjutan bagi masyarakat.

“Bertani jagung itu bukan hanya soal ketahanan pangan, tetapi juga soal ekonomi. Kalau kita kelola lahan dengan benar, hasilnya bisa menjadi pendapatan yang meningkatkan kesejahteraan keluarga-keluarga Papua,” ujar Emilianus Tikuk.

Ia melihat masyarakat Papua mulai kembali melihat pertanian sebagai peluang besar untuk mandiri dan tidak bergantung pada pihak lain. Jagung menjadi salah satu komoditas strategis yang dapat memberikan hasil cepat serta pasar yang jelas.

“Tanah kita luas, subur, dan siap ditanam. Yang dibutuhkan hanya kemauan, kerja sama, dan dukungan alat supaya masyarakat bisa bergerak lebih cepat,” tambahnya.

Emilianus juga berharap program pertanian ini mampu mengubah pola pikir masyarakat, dari kebiasaan membiarkan lahan terbengkalai menjadi semangat mengolah tanah sebagai sumber kehidupan.

Kesadaran masyarakat pun mulai tumbuh. Warga menyampaikan bahwa mereka kini semakin memahami pentingnya mengelola lahan sendiri demi masa depan ekonomi keluarga sekaligus mendukung ketahanan pangan.

“Mereka mulai sadar bahwa lahan yang selama ini dibiarkan tidur sebenarnya bisa menjadi sumber penghidupan. Dengan adanya dorongan dan bantuan dari semua pihak, mereka siap mendukung program ketahanan pangan dan kembali bertani,” ungkapnya.

Masyarakat optimistis bahwa dengan kerja bersama, pertanian jagung dapat menjadi kekuatan baru dalam membangun kemandirian ekonomi Papua.

“Kami ingin hidup lebih sejahtera. Kami punya tanah, kami punya tenaga, dan sekarang kami punya harapan. Pertanian jagung ini bisa menjadi jalan untuk masa depan yang lebih baik,” lanjutnya

Emilianus Tikuk menutup dengan ajakan agar masyarakat Papua terus bersatu membangun kampung melalui pertanian produktif, karena ketahanan pangan dan kesejahteraan harus dimulai dari tanah sendiri.

“Kalau kita bertani, kita tidak hanya menghasilkan makanan, tapi juga menghasilkan uang dan masa depan. Papua harus bangkit dengan kekuatan tanahnya sendiri,” tegas Emilianus.

Tokoh Agama Papua Pdt. Yones Wenda Dukung Penindakan Tegas Kekerasan KKB di Yahukimo

0

Papua, Jayapura – Tokoh Agama Papua, Pdt. Yones Wenda, menyampaikan seruan keras sekaligus dukungan terhadap langkah penindakan tegas atas tindakan kekerasan yang dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) terhadap masyarakat sipil di Kabupaten Yahukimo.

Dalam pernyataannya, Pdt. Yones menegaskan bahwa aksi kekerasan yang menyasar warga tak berdosa tidak dapat dibenarkan dalam bentuk perjuangan apa pun, karena justru melukai rakyat Papua sendiri.

“Saya Pendeta Yones Wenda, Tokoh Agama Papua menyampaikan seruan hati kepada saudara-saudara saya yang tergabung dalam KKB di Wilayah Yahukimo. Himbauan ini lahir dari kepedulian sebagai sesama anak Papua dan sebagai hamba Tuhan yang terpanggil menjaga nilai kemanusiaan dan kehidupan,” ujar Pdt. Yones Wenda.

Ia menekankan bahwa masyarakat sipil seperti ibu-ibu, anak-anak, orang tua, tenaga pendidik, dan tenaga kesehatan bukanlah musuh, melainkan bagian dari keluarga besar Papua yang harus dilindungi.

“Janganlah perjuangan dilakukan dengan cara yang mengorbankan masyarakat sipil. Mereka bukan musuh. Mereka adalah keluarga kita sendiri, darah daging Tanah Papua yang Tuhan percayakan untuk kita lindungi, bukan untuk disakiti,” tegasnya.

Pdt. Yones juga menyampaikan bahwa kekerasan tidak akan membawa keadilan, melainkan hanya meninggalkan trauma panjang dan memperpanjang rantai dendam di tengah masyarakat.

“Kekerasan tidak akan melahirkan keadilan, dan senjata tidak akan menumbuhkan harapan. Setiap nyawa yang hilang meninggalkan luka mendalam dan menjauhkan kita dari damai sejahtera,” katanya.

Menurutnya, apabila tujuan perjuangan adalah martabat dan masa depan Papua, maka jalan yang ditempuh harus bermoral, beradab, serta menghormati hak hidup manusia.

“Jika tujuan perjuangan adalah martabat dan masa depan Papua, maka jalan yang ditempuh harus mencerminkan nilai itu: beradab, bermoral, dan menghormati hak hidup manusia,” lanjutnya.

Ia pun mengajak kelompok bersenjata untuk menghentikan segala tindakan yang menyasar warga sipil dan memilih cara-cara yang lebih manusiawi serta bermartabat.

“Saya mengajak saudara-saudara untuk memilih cara yang lebih baik, hentikan tindakan yang menyasar warga sipil. Perjuangan yang menjunjung tinggi kemanusiaan akan lebih didengar dan dihormati,” ucap Pdt. Yones.

Di akhir pernyataannya, Pdt. Yones Wenda menyerukan doa bagi pemulihan Yahukimo dan Tanah Papua agar kembali hidup dalam damai, keadilan, dan kasih.

“Kiranya Tuhan melembutkan hati kita semua, menuntun langkah kita pada kebijaksanaan, dan memulihkan Tanah Yahukimo dalam damai, keadilan, dan kasih. Tuhan memberkati Tanah Papua. Tuhan memberkati Yahukimo.”

Dari Tanah Tidur Menuju Harapan Hidup: Pelajaran Penting dari Sebuah Lahan di Papua

0

Jayapura, Papua – Foto ini tidak sekadar menampilkan aktivitas pembajakan lahan. Lebih dari itu, gambar ini merekam sebuah pergeseran cara berpikir—dari menunggu menjadi bergerak, dari keluhan menjadi kerja nyata.

Di tengah hamparan lahan yang selama bertahun-tahun dibiarkan tidur, terlihat Bapak Emilianus Tikuk berdiri bersama masyarakat pemilik lahan dan operator jonder. Tidak ada podium, tidak ada pidato panjang, tidak ada seremoni. Yang ada hanyalah tanah, mesin, keringat, dan kemauan untuk berubah.
Inilah wajah Papua yang sesungguhnya: tanahnya subur, manusianya mampu, tetapi terlalu lama terjebak pada pola pikir bahwa kesejahteraan harus selalu datang dari luar.

Bapak Emilianus Tikuk hadir bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai penggerak. Ia tidak datang membawa janji kosong, tetapi menghadirkan pemahaman: bahwa tanah yang dimiliki masyarakat adalah kekuatan ekonomi paling nyata, jika dikelola dengan kesadaran dan kerja bersama. Pendekatan yang dilakukan bukan paksaan, melainkan dialog—mengajak masyarakat memahami bahwa bertani bukan pekerjaan kelas dua, melainkan jalan martabat dan kemandirian.

Kehadiran operator jonder di tengah masyarakat lokal juga menjadi simbol penting. Modernisasi tidak harus mematikan peran orang Papua, justru sebaliknya—alat menjadi pendukung, sementara masyarakat tetap menjadi subjek utama. Ini adalah kolaborasi, bukan ketergantungan.

Selama ini, terlalu banyak energi yang habis untuk kegiatan sesaat: pemalangan jalan, pemalangan lahan, konflik yang hanya menghasilkan uang cepat namun tidak berkelanjutan. Foto ini seperti menegur kita semua: hasil panen tidak datang dalam sehari, tetapi ia memberi kehidupan untuk waktu yang lama.

Apa yang dilakukan di lahan ini adalah investasi pola pikir. Anak-anak yang melihat orang tuanya kembali mengolah tanah akan tumbuh dengan kesadaran bahwa masa depan tidak harus dicari jauh-jauh. Ia ada di kebun, di ladang, di tanah leluhur sendiri.

Papua tidak kekurangan lahan. Papua tidak kekurangan tenaga. Yang selama ini kurang hanyalah kesadaran untuk memulai.
Foto ini adalah pesan diam namun kuat:
bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, tetapi dari satu lahan yang dibajak, satu keputusan untuk bekerja, dan satu keberanian untuk berhenti menunggu.

Jika pola pikir ini tumbuh dan menyebar, maka Papua tidak hanya akan dikenal sebagai tanah konflik, tetapi sebagai tanah harapan dan kemandirian.

Emilianus Tikuk: Kesadaran Warga Papua Bangkit, Lahan Tidur Mulai Dikelola untuk Pertanian Jagung

0

Papua — Kesadaran masyarakat Papua untuk kembali memanfaatkan lahan-lahan tidur mulai menunjukkan perkembangan positif. Hal ini disampaikan oleh tokoh masyarakat, Emilianus Tikuk, yang selama ini aktif melakukan pendekatan langsung kepada warga terkait pentingnya pengelolaan lahan pertanian, khususnya untuk komoditas jagung.

Menurut Emilianus Tikuk, perubahan pola pikir masyarakat tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses pendekatan, dialog, dan pemahaman yang terus dibangun. Ia menjelaskan bahwa selama ini banyak lahan luas milik masyarakat yang dibiarkan tidak terkelola, padahal memiliki potensi besar untuk meningkatkan perekonomian keluarga dan kesejahteraan bersama.

“Sekarang masyarakat mulai sadar bahwa lahan tidur itu bukan untuk dibiarkan, tapi harus diolah. Kesadaran ini muncul karena kita terus memberikan pemahaman bahwa bertani adalah jalan yang nyata dan berkelanjutan,” ujar Emilianus Tikuk.

Dalam setiap kesempatan, Emilianus Tikuk tidak hanya memberikan motivasi, tetapi juga pendampingan teknis. Ia menjelaskan secara langsung kepada masyarakat mulai dari cara membuka dan mengelola lahan, teknik penanaman benih jagung yang baik, hingga tata cara pemberian pupuk agar hasil panen maksimal.

“Bertani itu ada ilmunya. Kita ajarkan dari awal, dari menanam benih, merawat tanaman, sampai panen. Kalau dikerjakan dengan benar, hasilnya bisa menghasilkan uang,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa pertanian jagung merupakan salah satu solusi konkret bagi masyarakat Papua untuk membangun kemandirian ekonomi. Selain mudah dibudidayakan, jagung juga memiliki nilai jual yang jelas dan berkelanjutan.

Lebih lanjut, Emilianus Tikuk mengajak masyarakat Papua untuk meninggalkan aktivitas-aktivitas yang tidak memberikan manfaat jangka panjang, seperti pemalangan jalan maupun lahan. Menurutnya, kegiatan tersebut hanya bersifat sementara dan tidak menyentuh akar persoalan ekonomi masyarakat.

“Hentikan kegiatan yang tidak bermanfaat. Pemalangan itu hasilnya hanya sesaat. Berbeda dengan bertani, hasil panen bisa kita nikmati terus-menerus dan berkelanjutan,” tegasnya.

Ia berharap, dengan semakin tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk kembali bertani, Papua ke depan dapat berdiri lebih mandiri secara ekonomi, sekaligus menciptakan kehidupan yang lebih sejahtera dan bermartabat bagi orang asli Papua.

“Orang Papua harus kembali ke tanahnya, kembali bertani. Dari situ kita bisa hidup, membiayai keluarga, dan membangun masa depan yang lebih baik,” pungkas Emilianus Tikuk.

Kepedulian Emilianus Tikuk Dorong Kebangkitan Pertanian dan Harapan Baru Warga Papua

0

Jayapura – Upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat Papua terus mendapat dukungan dari berbagai pihak. Salah satunya datang dari Emilianus Tikuk, yang menunjukkan kepedulian nyata terhadap harapan warga untuk hidup lebih baik melalui penguatan sektor pertanian berbasis potensi lokal.

Masyarakat Papua pada dasarnya memiliki lahan pertanian yang luas dan subur. Namun, keterbatasan sarana produksi dan peralatan pertanian membuat banyak lahan tersebut telah lama tidak terkelola secara optimal. Kondisi ini berdampak pada rendahnya produktivitas dan terbatasnya peningkatan perekonomian masyarakat.

Dalam beberapa waktu terakhir, Emilianus Tikuk secara konsisten memberikan dukungan kepada masyarakat berupa bantuan benih jagung dan pupuk sebagai langkah awal mendorong pemanfaatan kembali lahan-lahan tidur. Bantuan tersebut dinilai penting untuk memulihkan semangat bertani serta memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat setempat.

Hari ini, dukungan tersebut kembali diperkuat dengan tibanya sejumlah alat pertanian, berupa traktor dan jonder, di lokasi pertanian warga. Kehadiran alat-alat tersebut diharapkan dapat membantu percepatan pengolahan lahan serta meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja petani.

Pantauan di lapangan menunjukkan masyarakat secara langsung terlibat dalam proses pengolahan lahan dengan memanfaatkan alat pertanian yang baru tiba. Sebuah traktor tampak digunakan di area pertanian, dikelilingi warga yang turut mengawasi dan bersiap memulai aktivitas tanam. Kondisi ini mencerminkan optimisme baru dan semangat kolektif untuk kembali mengelola lahan yang selama ini terbengkalai.

Masyarakat berharap, kepedulian yang ditunjukkan Emilianus Tikuk tidak hanya berdampak pada peningkatan produksi pertanian, tetapi juga mampu mendorong perubahan pola pikir, kemandirian ekonomi, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat Papua secara berkelanjutan.

Langkah ini dinilai sejalan dengan upaya mendorong pembangunan berbasis potensi lokal dan pemberdayaan masyarakat, khususnya di wilayah Papua, agar mampu keluar dari ketergantungan dan membangun masa depan yang lebih sejahtera.

Tokoh Masyarakat Skouw Ajak Warga Manfaatkan Lahan Tidur untuk Tingkatkan Kesejahteraan

0

Jayapura, Skouw — Tokoh masyarakat Kampung Skouw, Hans L. Nally, mengajak seluruh warga untuk kembali mengolah lahan-lahan yang selama ini tidak dimanfaatkan atau “lahan tidur” sebagai upaya meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat secara mandiri.

Menurut Hans, Kampung Skouw memiliki potensi sumber daya lahan yang sangat besar dan dapat menjadi kekuatan utama dalam membangun ekonomi masyarakat jika dikelola dengan baik dan berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa kemandirian ekonomi harus dimulai dari pemanfaatan tanah milik sendiri.

“Tanah kita punya, apalagi yang ditunggu. Kesempatan dan peluang ada di depan mata. Kita mampu dan mandiri, jangan tunggu orang lain. Dimulai dari ko,” ujar Hans L. Nally saat menyampaikan ajakannya kepada warga.

Ia berharap masyarakat tidak lagi bergantung pada pihak luar, melainkan berani mengambil langkah konkret dengan kembali bertani, berkebun, dan mengelola lahan yang ada sebagai sumber penghidupan. Selain meningkatkan pendapatan keluarga, pengolahan lahan juga dinilai mampu memperkuat ketahanan pangan kampung.

Hans juga mengajak generasi muda Skouw untuk terlibat aktif dalam sektor pertanian dan ekonomi produktif agar kampung dapat berkembang secara berkelanjutan. Dengan semangat kebersamaan dan kerja keras, ia optimistis Kampung Skouw mampu mewujudkan kesejahteraan dari tanah sendiri.