Jayapura – Ratusan warga Minangkabau yang bermukim di Kota dan Kabupaten Jayapura menggelar makan basamo (makan bersama) dalam rangka tradisi balimau menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Kegiatan yang berlangsung di Pantai Cemara Palong, Kota Jayapura, ini diikuti kurang lebih 500 warga Minang dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh adat, tokoh agama, perantau senior hingga generasi muda.
Suasana kebersamaan tampak begitu kental. Hidangan khas Minang tersaji berjajar, dinikmati bersama dalam balutan rasa persaudaraan yang hangat. Tradisi makan basamo ini bukan sekadar santap bersama, melainkan bagian dari rangkaian balimau yang sarat makna spiritual dan budaya.
Dalam tradisi Minangkabau, balimau menjadi simbol penyucian diri sebelum memasuki bulan puasa. Maknanya adalah membersihkan diri lahir dan batin, saling bermaafan, serta menghapus kesalahan agar dapat menjalankan ibadah Ramadan dengan hati yang bersih dan penuh keikhlasan.
Filosofi tersebut sejalan dengan prinsip hidup masyarakat Minang yang dikenal dengan ungkapan, “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah,” yang berarti adat bersendikan syariat, dan syariat bersendikan Al-Qur’an. Artinya, setiap tradisi dan kebiasaan dalam budaya Minangkabau berakar pada nilai-nilai Islam.
Karena itu, makan basamo bukan hanya simbol kebersamaan sosial, tetapi juga wujud ukhuwah Islamiyah. Di tanah rantau seperti Papua, tradisi ini menjadi pengikat kuat yang menyatukan hati sesama urang Minang, mempererat silaturahmi, sekaligus menjaga identitas adat dan nilai keagamaan tetap hidup.
Di bawah semilir angin Pantai Cemara Palong, kebersamaan ratusan warga Minang tersebut menjadi gambaran bahwa semangat persaudaraan dan nilai religius tetap terjaga, meski jauh dari kampung halaman. Ramadan pun disambut dengan hati yang bersih, penuh syukur, dan tekad memperkuat iman serta persatuan.
