Jayapura – Ketua Dewan Pengurus Paroki Hati Kudus Yesus Koya, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, sekaligus Koordinator Gerakan SOSRA, Bapak Laurensius Tukan, menegaskan bahwa launching beras lokal Papua bertajuk SOSRA (Solidaritas Sosial Rakyat) bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan langkah strategis dalam memperkuat stabilitas ekonomi dan ketahanan pangan di Tanah Papua.
Dalam pernyataannya, Laurensius Tukan menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap inisiatif tersebut sebagai gerakan moral dan sosial yang lahir dari semangat kebersamaan masyarakat Papua. Sebagai Koordinator Gerakan SOSRA, ia menegaskan bahwa gerakan ini dibangun atas dasar panggilan hati untuk memperkuat ekonomi rakyat dari bawah.
“Tajuk SOSRA bukan hanya nama sebuah produk. Ini adalah simbol gerakan moral dan sosial. Gereja memandang bahwa solidaritas adalah panggilan iman. Ketika umat bersatu untuk mendukung pangan lokal, itu adalah wujud nyata kasih dan tanggung jawab sosial,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa dalam dinamika ekonomi nasional dan tantangan global saat ini, penguatan sektor pangan lokal menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah. Beras SOSRA yang dihasilkan oleh petani Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura, dinilai sebagai langkah konkret dalam membangun kemandirian ekonomi berbasis rakyat.
Menurutnya, panen perdana sebanyak 5 ton merupakan awal yang patut disyukuri sekaligus menjadi bukti bahwa masyarakat Papua mampu berdiri di atas kekuatan sendiri dalam memenuhi kebutuhan pangan dan menjaga perputaran ekonomi tetap berada di dalam daerah.
“Ketahanan pangan adalah bagian dari stabilitas bangsa. Ketika petani kita diberdayakan, ketika hasil bumi kita dihargai dan dikonsumsi sendiri, maka roda ekonomi berputar di tanah ini. Ini bukan hanya soal beras, tetapi soal kedaulatan ekonomi dan masa depan Papua,” ujarnya dengan tegas.
Sebagai pimpinan Dewan Pengurus Paroki dan Koordinator Gerakan SOSRA, Laurensius Tukan mengaitkan gerakan ini dengan ajaran sosial Gereja Katolik tentang solidaritas, subsidiaritas, dan keberpihakan kepada kaum kecil. Ia menegaskan bahwa gereja tidak hanya hadir dalam ruang ibadah, tetapi juga dalam perjuangan kesejahteraan umat.
“Gereja mengajarkan bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Mendukung produk lokal seperti SOSRA adalah bentuk iman yang hidup — iman yang bekerja, iman yang membela petani, dan iman yang membangun kesejahteraan bersama,” tambahnya.
Dukungan masyarakat Papua terhadap gerakan SOSRA dinilai sebagai bukti bahwa semangat persatuan lintas suku, agama, dan golongan tetap kuat dalam membangun stabilitas dan kesejahteraan bersama. Ia berharap gerakan ini terus berkembang dan menjadi model penguatan ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan di Provinsi Papua.
“Kami berharap SOSRA menjadi pion penggerak ketahanan pangan, memperkuat stabilitas ekonomi daerah, serta menjadi saluran berkat bagi masyarakat Kota Jayapura dan Provinsi Papua secara luas. Ketika rakyat kuat secara ekonomi, maka Papua akan berdiri kokoh, bermartabat, dan damai,” tutup Laurensius Tukan.
