Minggu, September 20, 2026

CENDERAWASIH POST

spot_img

Dari Tanah Tidur Menuju Harapan Hidup: Pelajaran Penting dari Sebuah Lahan di Papua

Date:

Share:

Jayapura, Papua – Foto ini tidak sekadar menampilkan aktivitas pembajakan lahan. Lebih dari itu, gambar ini merekam sebuah pergeseran cara berpikir—dari menunggu menjadi bergerak, dari keluhan menjadi kerja nyata.

Di tengah hamparan lahan yang selama bertahun-tahun dibiarkan tidur, terlihat Bapak Emilianus Tikuk berdiri bersama masyarakat pemilik lahan dan operator jonder. Tidak ada podium, tidak ada pidato panjang, tidak ada seremoni. Yang ada hanyalah tanah, mesin, keringat, dan kemauan untuk berubah.
Inilah wajah Papua yang sesungguhnya: tanahnya subur, manusianya mampu, tetapi terlalu lama terjebak pada pola pikir bahwa kesejahteraan harus selalu datang dari luar.

Bapak Emilianus Tikuk hadir bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai penggerak. Ia tidak datang membawa janji kosong, tetapi menghadirkan pemahaman: bahwa tanah yang dimiliki masyarakat adalah kekuatan ekonomi paling nyata, jika dikelola dengan kesadaran dan kerja bersama. Pendekatan yang dilakukan bukan paksaan, melainkan dialog—mengajak masyarakat memahami bahwa bertani bukan pekerjaan kelas dua, melainkan jalan martabat dan kemandirian.

Kehadiran operator jonder di tengah masyarakat lokal juga menjadi simbol penting. Modernisasi tidak harus mematikan peran orang Papua, justru sebaliknya—alat menjadi pendukung, sementara masyarakat tetap menjadi subjek utama. Ini adalah kolaborasi, bukan ketergantungan.

Selama ini, terlalu banyak energi yang habis untuk kegiatan sesaat: pemalangan jalan, pemalangan lahan, konflik yang hanya menghasilkan uang cepat namun tidak berkelanjutan. Foto ini seperti menegur kita semua: hasil panen tidak datang dalam sehari, tetapi ia memberi kehidupan untuk waktu yang lama.

Apa yang dilakukan di lahan ini adalah investasi pola pikir. Anak-anak yang melihat orang tuanya kembali mengolah tanah akan tumbuh dengan kesadaran bahwa masa depan tidak harus dicari jauh-jauh. Ia ada di kebun, di ladang, di tanah leluhur sendiri.

Papua tidak kekurangan lahan. Papua tidak kekurangan tenaga. Yang selama ini kurang hanyalah kesadaran untuk memulai.
Foto ini adalah pesan diam namun kuat:
bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, tetapi dari satu lahan yang dibajak, satu keputusan untuk bekerja, dan satu keberanian untuk berhenti menunggu.

Jika pola pikir ini tumbuh dan menyebar, maka Papua tidak hanya akan dikenal sebagai tanah konflik, tetapi sebagai tanah harapan dan kemandirian.

━ more like this

Rakornas KADIN Dorong Penguatan Ekonomi Daerah, Papua Soroti Rantai Pasok hingga Hilirisasi

JAKARTA, 11 September 2026 — Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Gabungan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia yang digelar di Jakarta menjadi momentum penting untuk...

Kamtibmas Dibangun dari Masyarakat yang Berdaya

Jayapura - Pertanian dalam konteks ini tidak hanya berbicara mengenai benih, lahan dan hasil panen, tetapi juga mengenai bagaimana membangun manusia. Ketika seorang petani mulai...

Pertanian Jagung Jadi Jalan Membangun Kesejahteraan dan Kamtibmas di Papua

Jayapura — Upaya membangun kesejahteraan masyarakat melalui sektor pertanian terus dikembangkan di Papua. Salah satunya melalui pembinaan para petani jagung yang dilakukan Koperasi Bina...

Kejati Papua dan IAD Wilayah Papua Salurkan Peduli Kasih bagi Korban Kebakaran Dok V Jayapura

JAYAPURA — Kepedulian terhadap warga yang terdampak musibah kebakaran kembali ditunjukkan oleh Kejaksaan Tinggi Papua bersama Ikatan Adhyaksa Dharmakarini (IAD) Wilayah Papua. Melalui kegiatan Peduli...

MRP Serukan Ketegasan Bersama: Jangan Biarkan Provokasi Merusak Kedamaian Papua

JAYAPURA — Anggota Majelis Rakyat Papua (MRP) Isak Randy Hikoyabi menyerukan sikap tegas seluruh masyarakat di Tanah Papua untuk menjaga keamanan, ketertiban, dan kedamaian....

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini