Selasa, Juli 28, 2026

CENDERAWASIH POST

spot_img

Dari Tanah Tidur Menuju Harapan Hidup: Pelajaran Penting dari Sebuah Lahan di Papua

Date:

Share:

Jayapura, Papua – Foto ini tidak sekadar menampilkan aktivitas pembajakan lahan. Lebih dari itu, gambar ini merekam sebuah pergeseran cara berpikir—dari menunggu menjadi bergerak, dari keluhan menjadi kerja nyata.

Di tengah hamparan lahan yang selama bertahun-tahun dibiarkan tidur, terlihat Bapak Emilianus Tikuk berdiri bersama masyarakat pemilik lahan dan operator jonder. Tidak ada podium, tidak ada pidato panjang, tidak ada seremoni. Yang ada hanyalah tanah, mesin, keringat, dan kemauan untuk berubah.
Inilah wajah Papua yang sesungguhnya: tanahnya subur, manusianya mampu, tetapi terlalu lama terjebak pada pola pikir bahwa kesejahteraan harus selalu datang dari luar.

Bapak Emilianus Tikuk hadir bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai penggerak. Ia tidak datang membawa janji kosong, tetapi menghadirkan pemahaman: bahwa tanah yang dimiliki masyarakat adalah kekuatan ekonomi paling nyata, jika dikelola dengan kesadaran dan kerja bersama. Pendekatan yang dilakukan bukan paksaan, melainkan dialog—mengajak masyarakat memahami bahwa bertani bukan pekerjaan kelas dua, melainkan jalan martabat dan kemandirian.

Kehadiran operator jonder di tengah masyarakat lokal juga menjadi simbol penting. Modernisasi tidak harus mematikan peran orang Papua, justru sebaliknya—alat menjadi pendukung, sementara masyarakat tetap menjadi subjek utama. Ini adalah kolaborasi, bukan ketergantungan.

Selama ini, terlalu banyak energi yang habis untuk kegiatan sesaat: pemalangan jalan, pemalangan lahan, konflik yang hanya menghasilkan uang cepat namun tidak berkelanjutan. Foto ini seperti menegur kita semua: hasil panen tidak datang dalam sehari, tetapi ia memberi kehidupan untuk waktu yang lama.

Apa yang dilakukan di lahan ini adalah investasi pola pikir. Anak-anak yang melihat orang tuanya kembali mengolah tanah akan tumbuh dengan kesadaran bahwa masa depan tidak harus dicari jauh-jauh. Ia ada di kebun, di ladang, di tanah leluhur sendiri.

Papua tidak kekurangan lahan. Papua tidak kekurangan tenaga. Yang selama ini kurang hanyalah kesadaran untuk memulai.
Foto ini adalah pesan diam namun kuat:
bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, tetapi dari satu lahan yang dibajak, satu keputusan untuk bekerja, dan satu keberanian untuk berhenti menunggu.

Jika pola pikir ini tumbuh dan menyebar, maka Papua tidak hanya akan dikenal sebagai tanah konflik, tetapi sebagai tanah harapan dan kemandirian.

━ more like this

Kejati Papua Perkuat Pembinaan Masyarakat Adat Melalui Program Pertanian di Kabupaten Keerom

Keerom, Papua – Selasa, 21 Juli 2026 – Kejaksaan Tinggi (Kejati) Papua terus memperkuat perannya dalam melakukan pembinaan kepada masyarakat melalui pendekatan yang produktif...

BMP RI: Nyawa Manusia Tidak Ternilai, Pelaku Kekerasan Harus Diproses Tegas Sesuai Hukum

Jayapura – Barisan Merah Putih Republik Indonesia (BMP RI) menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya pilot warga negara asing (WNA), Nicholas F. Goselin,...

Ketua Wilayah Adat Lapago Kabupaten Jayapura Serukan Masyarakat Jaga Ketertiban dan Perdamaian Jelang 1 Juli 2026

JAYAPURA – Menjelang 1 Juli 2026 yang bertepatan dengan peringatan Hari Bhayangkara ke-80, Ketua Wilayah Adat Lapago Kabupaten Jayapura, Nius Jigwa, mengajak seluruh masyarakat...

Warga Minang Kota Jayapura Pererat Silaturahmi Melalui Pengajian Rutin Bulanan

Jayapura, 7 Juni 2026 – Suasana hangat dan penuh kekeluargaan mewarnai kegiatan pengajian rutin bulanan Ikatan Keluarga Minang (IKM) Kota Jayapura yang dilaksanakan pada...

IKM Kota Jayapura Serahkan Hewan Kurban dan Berikan Dukungan untuk Pondok Dai Hidayatullah Koya Barat

Jayapura — Ikatan Keluarga Minang (IKM) Kota Jayapura melaksanakan kunjungan silaturahmi sekaligus penyembelihan hewan kurban di Pondok Dai Hidayatullah, Koya Barat, Kota Jayapura. Dalam...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini